spot_imgspot_img
BerandaLifestyleFilm Sang Martir, Memikat Sisi Lain Potret Kehidupan Remaja

Film Sang Martir, Memikat Sisi Lain Potret Kehidupan Remaja

Jakarta, channelsatu.com: Banyak cerita dan kisah yang bisa diangkat dari kejadian sehari-hari untuk dituangkan jadi sebuah film.

 

Rumah produksi Starvision yang dikomandani Chand Parwez Servia menangkap cela itu, ketika penulis dan sekaligus sutradara Helfi Kardit melemparkan ide untuk mengungkap sisi lain kehidupan remaja, dengan judul Sang Martir.

Potret kehidupan remaja yang digambarkan di film ini jadi punya nilai lebih dibandingkan film remaja pada umumnya. Pasalnya, Helfi mampu menggarapnya dengan manis dan santun untuk mengajarkan apa itu toleransi dalam kerukunan beragama?

Di film ini juga dikisahkan bahwa hidup untuk melawan kebatilan harus dilawan dengan cerdik, cerdas dan kepala dingin tanpa harus menggurui.Maklumlah di zaman ini kian banyak orang hidup dalam kemunafikan yang pura-pura suci dan bersih demi kekuasan, jabatan dan uang.

“Ide film ini terbentuk awalnya karena bagian kegelisahan saya melihat situasi-situasi yang sangat tidak kondusif setelah era reformasi. Sebab,  begitu banyak persoalan bangsa ini yang semakin kehilangan kontrol baik dari pemerintah, maupun masyarakat sendiri,” ungkap Helfi.

“Seolah hilangnya rasa bermasyarakat yang nyaman, karena semua hanya melihat pada perspective satu kepentingan saja hingga terjadi banyak konflik-konflik sosial, agama dan politik yang merugikan masyarakat dari berbagai golongan,” ujar Helfi mengapa ia ingin membuat film ini.

“Script film ini mulai saya tulis tahun 2008 dengan me review Indonesia 1 dekade setelah reformasi yang pada awal diberi judul Musuh Negara. Agak berat memang cerita yang diangkat, tapi saya tetap mengemas dan menyampaikannya secara entertaining,” akunya.

“Tentu bukan mau menggurui penonton di bioskop. Entertaining dalam artian filmnya punya bobot dalam segi cerita, tapi pengemasan mempunyai hiburan tinggi seperti adegan kejar-kejaran aktor utama Rangga yang diperankan Adipati saat dikejar oleh genk penguasa salah satu wilayah bernama Rambo, dan adegan action yang cukup seru,” lanjutnya.

Akhirnya melalui Sang Martir, perlawanan karakter Rangga (Adipati Dolken) dan Arman (Fauzan Smith) sebagai anak panti yang terimbas aksi premanisme, akibat peristiwa perkosaan Lili (Widy Vierra) adiknya, ceritera bergulir.

Berikutnya digambarkan di film ini masih ada lo remaja yang mengisi hari-harinya tidak penuh hura-hura yang konsumtif, tetapi hari-harinya diisi kehidupan secara lebih berarti bagi orang banyak.

Bahkan hingga Rangga berada dibalik jeruji besi, karena membunuh Jerink (Edo Borne) dalam perkelahian bela dirinya, menghadapi persoalan ‘luar biasa’ bagi pemuda biasa demi harga diri keluarganya. Padahal yang terbunuh adalah adik Rambo (Tio Pakusadewo), ketua genk yang brutal, sadis dan dilicik.

Di dalam penjarapun Rangga jiwanya tetap terancam karena Rambo mencoba membalasakan dendam kematian adiknya lewat orang lain. Beruntung ia selamat karena perlindungan seorang napi lain, pendeta Josep.

Pelajaran hidup yang keras pun didapati Rangga dari sang pendeta hingga dirinya menghirup udara bebas. Tapi, kebebasan itu hanyalah sementara dan semu, karena Rangga kembali terancam jiwanya, akibat anak buah Rambo bersiap menghabisi Rangga. Beruntung Jerry (Ray Sahetapy), ketua genk musuh Rambo mengirim anak buahnya untuk menyelamatkan Rangga, dan mempekerjakan Rangga sebagai kurir produk mainan yang sebetulnya kamuflase bisnis narkobanya.

Jerry sendiri adalah musuh bebuyutan geng Rambo, yang secara diam-diam ingin memperalat Rangga untuk memberikan perlawanan pada Rambo.

Di sisi lain, di markas Jerry inilah Rangga mengetahui tentang kondisi panti, kematian Pak Haji Rachman (Jamal Mirdad) pemilik panti yang mati diracuni Rambo dalam menguasai lahan panti untuk dijadikan mall, adik-adik pantinya yang diberhentikan dari sekolah dan dijadikan pengemis.

Ini juga awal pertemuannya dengan Cinta (Nadine Alexandra) seorang gadis yang selalu berdo’a di luar gereja. Kisah cinta Rangga dengan Cinta tumbuh dalam persoalan yang pelik, tetapi saling menghormati.

Persolan menjadi tambah runcing, ketika Rangga harus melakukan tugas dari Rambo sebagai pengganti keselamatan adik-adiknya di panti, menjadi seorang Martir. Menghancurkan Jerry musuh bebuyutan Rambo, bersama gereja binaannya, dan melaksanakan pesan dari oknum sebagai pengalihan isu.

Diakui Parwez, Sang Martir memang berbobot tetapi tidak berat, karena elemen-elemen ceriteranya bernas dan digarap serius oleh segenap tim eksekusinya. Melalui sentuhan editing yang cerdas dari Cesa David Luckmansyah serasa manis menuturkan kepedihan yang jadi bagian kehidupan banyak saudara kita, tetapi luput dari pengamatan kita.

Musik yang melengkapi seluruh ruang emosi karakter yang terjepit kekuasaan, dalam ketidak berdayaannya tetap berjuang untuk melawan, disajikan menyentuh oleh Tya Subiakto Satrio. Melihat materi Sang Martir, Khikmawan Santosa sebagai sound designer langsung menumpahkan kreatifitasnya dengan aplikasi Dolby Digital 7:1 untuk di bioskop-bioskop tertentu, aplikasi pertama untuk film nasional.

“Beruntung saya bersahabat dan bekerja dengan berbagai kreatif yang selalu ingin melakukan yang terbaik bagi perfilman nasional, juga pemain-pemain yang loyalitasnya sangat tinggi saat mereka berkarya,” tutur Parwez.

“Semoga, melalui Sang Martir kita yakin bahwa tidak ada yang tidak bisa kita perbaiki, agar negeri kita tercinta ‘lebih baik’. Sang Martir adalah ekspresi keimanan yang tebal, saat kita menghadapi kebathilan dengan tindakan,” papar Parwez lagi.

“Awalnya saya menyiapkan judul Syuhada untuk film ini, tetapi film ini untuk siapa saja, film keluarga yang universal karena itulah judul Sang Martir dipilih,” terang Parwez dimana Sang Martir bisa disaksikan di bioskop-bioskop mulai akhir Oktober ini.(Ibra)

- Advertisement -

spot_imgspot_img

Worldwide News, Local News in London, Tips & Tricks

spot_img

- Advertisement -